KISAH CINTA LAILA DAN MAJNUN, KISAH CINTA YANG MELEGENDA DAN MENJADI INSPIRASI BANYAK KARYA DUNIA
INFORMASINOW.COM
byMapiroHBorrA, S a b t u, 0 3 A g u s t u s 2
0 2 4
SompUGilASoppenGLegendS@ Kisah cinta Laila dan Majnun memang
mendunia, bahkan kisah cinta tersebut menjadi inspirasi ditulisnya kisah Romeo
Juliet oleh William Shakespeare pada tahun 1616 Masehi. Kisah Laila Majnun
ditulis oleh sastrawan Islam besar bernama Nizami, pada abad ke 12 Masehi. Laila
dan Majnun adalah sebuah cerita asmara yang terkenal di seluruh dunia. Dalam
kisah yang memilukan ini, seorang pemuda bernama Qais jatuh cinta kepada
seorang gadis, Laila, malangnya cinta
mereka karena ayah Laila tidak
menyetujui hubungan keduanya. Hingga
akhirnya, cinta mereka pun kandas.
Kisah Laila Majnun ditulis oleh Syaikh Nizami pada tahun 1188 M,
bentuknya berupa syair, ditulis
berdasarkan cerita rakyat Arab-Persia yang telah ada sejak lima ratus tahun
sebelumnya. Dalam
masyarakat Arab-Persia ketika itu, Majnun acapkali dihubungkan dengan tokoh
yang benar-benar pernah ada, yaitu Qays
bin al-Mulawwah, yang mungkin hidup pada paruh kedua abad ke-7 di padang pasir
Najd di semenanjon Arab.
Kisah percintaan keduanya telah menginspirasi banyak sastrawan
besar dunia untuk menulis kisah cinta abadi yang senafas, seperti Romeo and
Juliet, karya William Shakespeare, "Romi dan Juli", atau kisah cinta
"Magdalena-Stevan", karya Alphose Karr berjudul "Sous les
Tilleus" (Dalam bahasa Perancis berarti, "Di Bawah Pohon Tilia")
yang kemudian diterjemahkan atau disadur dengan sangat apik oleh Musthafa
al-Manfaluthi, menjadi "Majdulin", dan juga kisah cinta Hayati dan
Zainuddin dalam novel terkenal "Tenggelamnya Kapal Vanderwijck",
karya ulama besar Indonesia, Buya Hamka yang mengebohkan itu, dan
"Baridin-Ratminah" di Cirebon, Jawa Barat dan lain-lain.
Di dunia Timur Tengah nama Laila
ini dikenal luas dalam kisah cinta abadi antara “Qais dan Layla”, atau dikenal dengan sebutan
“Layla-Majnun”, bahkan ada puluhan novel
yang ditulis para sastrawan yang menceritakan kisah percintaan Layla-Qais
atau "Layla-Majnun" tersebut.
Nama lengkapnya Layla binti Mahdi bin Sa’d bin Ka’b bin Rabi’ah.
Sementara nama lengkap kekasih abadinya adalah Qais bin Mulawwih (Mulawwah) bin
Muzahim bin ‘Adas bin Rabi’’ah bin Ja’dah bin Ka’b bin Rabi’ah. Sebagian orang
menyebut Qais bin Mu’adz yang berasal dari Kabilah Amir.
Pada masa Nizami hidup, ada banyak sekali variasi tema mengenai
Majnun yang tersebar di seluruh daerah itu, tetapi yang terkenal tetap saja
gubahannya. Syekh Hakim An-Nizami yang
biasa disebut Nizami, dikenal sang penutur kisah cinta yang mendunia ini. Nama
kecilnya Ilyas. Terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal kelahirannya, karena
sebagain ahli sejarah menyebut tahun 1155 sebagai tahun kelahirannya, sebagaian yang lain mengatakan bahwa beliau
lahir pada akhir 1162. An-Nizami lahir
di kota Ganji, tidak jauh dari Bakou, bekas wilayah Azerbaijan (Soviet), di
Iran bagain utara. Tidak mengherankan jika latar cerita dalam karyanya adalah
gurun Arabia dan pegunungan Kurdi.
Semasa hidupnya An-Nizami dikenal menguasai banyak ilmu, mulai dari
matematika, norma hukum islam, filsafat yunani, dan ilmu pengobatan. Enam karya utamanya termasuk Laila Majnun
disusun dalam gaya bahasa puitis yang dikenal dengan masnawi. Novel Laila Majnun Karya Nizami ini menggambarkan masyarakat Arab dan Persia, Laila Majnun
hingga kini masih terus dikenang sebagai sebuah kisah mengenai keabadian cinta.
Qais dan Laila adalah sepasang anak muda yang tampan dan cantik yang lahir
dalam keluarga terhormat.
Qais adalah anak seorang pemimpin kabilah dari Bani Amir dan Laila
adalah anak pemuka kabilah yang lain. Kisah
cinta Qais dan Laila bermula dari sebuah sekolah. Cinta mereka kemudian kandas
oleh adat masyarakat yang pada waktu itu mengharamkan hubungan lelaki dan
perempuan secara terbuka. Kisah cinta
Layla-Qais, dipandang masyarakat sebagai cinta abadi dan legendaris, sebuah cinta paling indah, menggetarkan,
menguras air mata sekaligus juga merupakan sebuah kisah percintaan indah yang
berakhir tragis.
Mendengar berita tentang pernikahan Layla, Qais pun patah harapan
dan pergi meninggalkan rumahnya dengan
segala kepedihannya untuk menuju hutan
belantara. Oleh karena perbuatannya itu, Qais disebut oleh masyarakat setempat sebagai
Majnun alias gila, karena beban
kekasihnya yang harus menikah dengan
lelaki lain yang direstui orang tuanya sementara ia gagal karena tidak memperoleh restua orangtua suatu
tradisi yang mengakar di sana.
Kisah cinta Layla-Qais, dipandang masyarakat sebagai cinta abadi dan legendaris, sebuah cinta paling indah, menggetarkan, menguras air mata sekaligus juga merupakan sebuah kisah percintaan indah yang berakhir tragis. Kisah Cinta Layla-Qais, ditulis oleh sejumlah sastrawan dunia dan sufi besar dari berbagai negara Arab, Persia, Turki, India dan lain-lain dengan versi yang berbeda-beda. Mereka antara lain: Al-Ashmu’i (w. 215 H), Arab, Nizami Ganjavi, Nizam al-Din, (w. 599 H), Persia, Sa’d al-Syirazi (w. 1291 M) Persia, Abd al-Rahman al-Jami (w. 1492 M), Persia , Amir Khasru al-Dihlawi (w. 1325 M), asal Turki kemudian pindah ke Delhi, Ahmad Syauqi (1932 M), Mesir, dan lain-lain.
“ Kisah ini juga menginspirasi , kisah nyata Romantika Ira dan LandunG “,
S a i d b y SompUGilASoppenGLegendS@


Komentar
Posting Komentar