DUA PENELITIAN MENGGUNAKAN SATELIT MENEMUKAN DARATAN DI BAWAH LAPIS ES ANTARTIKA.
INFOKOMNOW.COM
byPakeLEE, 21/12/2018
ImbITambILegendS@ Sebuah penelitian
menemukan daratan luas membantang di
bahwa lapisan es Kutub Selatan, ini membuat
ilmuwan terkejut karena membuka rahasia alam yang tidak diketahui
sebelumnya. Tim ilmuwan dari berbagai
negara ini menemukan esker, atau gugusan bukit yang mirip dengan lapisan es
dari zaman purba, dengan menggunakan citra satelit dan data radar, memiliki ukuran yang lebih besar dari apapun yang ada di Bumi,
beberapa di antaranya bahkan sebesar menara Eiffel, diperkirakan inilah yang menjadi salah satu
penyebab menipisnya lapisan es Kutub Selatan.
Sebelumnya,
Lapisan Es Skandinavia dari Zaman Pleistosen adalah salah satu massa glasial
terbesar saat itu, meninggalkan esker yang masih bisa kita lihat hingga kini. Lapisan es itu tebalnya sekitar tiga
kilometer, selama ribuan tahun bentang alam di bawah lapisan es inilah yang
mencegah pengendapan dan penguapan. Sehingga, es akan terus berputar melalui
laut, sebagaimana dilansir dari Science Alert.
Sekarang
para ilmuwan telah menemukan bukti adanya hamparan daratan di bawah lapisan es
Antartika. Fitur subglacial ukurannya
lima kali lebih besar dari yang selama ini kita lihat. Demi memperluas pandangan ini, sekelompok
ilmuwan internasional yang menggunakan citra satelit, European Space Agency (ESA) berhasil
mengungkapkan misteri tersembunyi dari struktur benua es tersebut.
European
Space Agency (ESA) telah menemukan peninggalan jejak-jejak dari benua-benua
yang hilang dan tersembunyi di bawah Antartika selama jutaan tahun yaitu daratan kuno yang terkubur 1,6 km di bawah
benua es itu. Lokasi terpencil dan
banyaknya es untuk mengungkapkan fitur geologis Antartika merupakan alasan
utama mengapa hanya sedikit informasi yang dapat dikuak selama ini, berkat data yang diperoleh dari satelit yang
telah pensiun, para ilmuwan dari Kiel University di Jerman dan British
Antarctic Survey di Inggris dapat menyusun ide baru bagaimana Antartika
terbentuk dan bagaimana kaitannya dengan susunan lempeng tektonik Bumi.
Penelitian
diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports
dari informasi yang dikumpulkan
oleh misi Gravity field and Ocean Circulation Explorer (GOCE), proyek satelit
empat tahun untuk mengukur tarikan gravitasi Bumi yang sempat mengorbit planet
dari Maret 2009 hingga November 2013 dan akhirnya jatuh ke bumi. “ Di
Antartika Timur, kami melihat mosaik yang memesona dari berbagai fitur geologis
yang mengungkapkan persamaan dan perbedaan mendasar antara kerak bumi di bawah
Antartika dan benua lain, yang telah terjadi hingga 160 juta tahun yang
lalu ”,
Ujar SiDin Fausto Ferraccioli
Kepala Sains Geology and Geophysics di British Antarctic Survey.
Ukuran
esker ini tak hanya begitu besar dan mengejutkan, tapi di saat yang sama juga
berperan sebagai kunci stabilitas lapisan es di Kutub Selatan. Para ilmuan yang
berasal dari Université libre de Bruxelles (ULB, Belgia) dan Bavarian Academy
of Sciences (Jerman) sebagaimana dikutip dari Phys.org menjelaskan, lereng
sedimen besarnya secara aktif membentuk lapisan es sepanjang ratusan kilometer
di hilir, dengan mengukir sayatan yang dalam di dasar es. Sayatan-sayatan ini
lambat laun akan membuka titik lemah yang lebih rentan terhadap kerusakan yang
diakibatkan masuknya air laut yang hangat.
Menurut
para ilmuwan, Antartika sempat menjadi bagian dari superkontinen Gondwana yang
mulai pecah sekitar 130 juta tahun yang lalu,
penggabungkan bukti GOCE dari data seismologi, para peneliti mampu
membuat peta 3D litosfer Bumi yang terdiri dari lapisan kerak dan mantel
cair. Litosfer terdiri dari kerak dan
mantel cair di bawah permukaan Bumi, termasuk pegunungan, permukaan dasar laut,
dan zona berbatu yang disebut kraton.
Kraton adalah sisa-sisa benua kuno yang tertanam di benua seperti yang
kita kenal sekarang.
Peta 3D
itu menunjukkan bahwa Antartika dan Australia tetap terhubung setidaknya sampai
55 juta tahun yang lalu. " Untuk mendapatkan gambar yang lebih koheren
dari kerak dan mantel atas dalam bentuk 3D, kami menggabungkan data satelit
dengan data seismik untuk memungkinkan kami untuk memahami interaksi antara
lempeng tektonik dan dinamika lapisan dalam
", Ujar SiDin Jörg Ebbing
dari Kiel University.
Para
peneliti pernah mengira bahwa lapisan es menipis saat bertemu dengan air
lautan. Namun, penemuan baru ini menjelaskan bahwa ketidakstabilan membawa
dampak pada lapisan es bahkan saat masih di darat. Kemungkinan untuk dapat
menghentikan penipisan lapisan es di Antartika adalah hal yang tidak bisa
dilakukan. Namun, pemahaman kita yang lebih baik tentang proses penipisan
tersebut dapat membantu kita memahami dampak apa yang akan terjadi saat lapisan
itu benar-benar terkikis.
“ Studi kami menunjukkan bahwa saluran es sudah
ada di darat. Ukuran saluran ini secara signifikan bergantung pada proses
sedimentasi yang telah terjadi selama ratusan sampai ribuan tahun ”, Ujar SiDin Reinhard Drews, penulis utama
studi “ Actively evolving subglacial
conduits and eskers initiate ice shelf channels at an Antarctic grounding line ”
yang telah dipublikasikan di Jurnal Nature Communications.
" Dunia sangat Luas, Tatasurya baru sebagian kecilnya "
Said by PakeLEE@



Komentar
Posting Komentar